Skip to main content

Cerita Rakyat Joko Kendil dan Si Gundul


Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), ada sebuah cerita rakyat yang cukup popular yaitu ‘Joko Kendil & Si Gundul’. Cerita ini mengisahkan tentang 2 orang anak yang bersahabat meski punya perbedaan. Kisah ini sangat menarik dan punya pesan moral yang tinggi. Untuk cerita selengkapnya, mari kita simak di bawah ini!



Kisah Joko Kendil dan Si Gundul

Di sebuah desa di pedalaman Yogyakarta, ada seorang anak yang diberi nama Joko Kendil. Diberi nama demikian karena tubuhnya bulat sehingga terlihat seperti periuk atau kendil. Ia tinggal dengan ibunya. Meski kerap kali diejek masyarakat di sekitarnya, ia tak pernah berkecil hati. Ia tetap dermawan dan membantu siapapun yang kesusahan, khususnya penduduk di pasar. Tubuhnya yang bulat seperti kendil membuat tak seorangpun mau menjadi temannya. Setiap harinya, ia hanya berdua dengan ibunya saja dalam melakukan aktifitas sehari-hari.

Suatu hari, ada warga baru datang. Warga baru itu tak jauh beda dengan Joko Kendil dan keluarganya. Mereka keluarga sederhana dan punya seorang anak laki-laki tinggu kurus berkepala gundul. Jika kena matahari, kepalanya mengkilap & terlihat semakin lucu. Ia adalah Si Gundul. Seperti halnya Joko Kendil, Si Gundul juga tak punya teman. Itulah kenapa ia jadi rendah diri & tersisih. Suatu hari, Joko Kendil dan Si Gundul bertemu dan akhirnya menjadi sahabat yang sangat akrab. Mereka selalu bermain dan beraktifitas Bersama-sama.

Si Gundul punya keahlian mahir memuat laying-layang. Ia mengajak Joko Kendil membuat layangan besar dan diberikan ke Joko Kendil. Si Gundul juga pintar memanah dan mengajari Joko Kendil memanah hingga mahir.

Cerita rakyat ini mengisahkan suatu hari Joko Kendil mendengar kabar bahwa Raja punya 3 putri cantik dan mencari laki-laki untuk menjadi menantunya. Ia pun ingin memingan salah satu putri raja namun ibunya keberatan. Warga pun mengolok-olok niatnya. Tapi, Si Gundul memberi semangat.

Singkatnya, Joko Kendil Bersama ibunya berangkat ke istana. Tak lupa Si Gundul memberi busur panah kesayangannya pada Joko Kendil untuk berjaga-jaga. Setibanya di istana, raja memanggil putri-putrinya. Putri pertama & kedua dengan tegas menolaknya karena tubuh Joko Kendil yang bulat. Yang mengagetkan adalah putri ketiga menerima pinangan Joko Kendil. Dengan berat hati, raja pun terpaksa merestuinya.

Suatu hari, ada perlombaan memanah di istana. Ada seorang pemuda tampan yang mahir memanah. Putri pertama & kedua jelas terpesona melihatnya sembari mengejek putri ketiga yang lebih memilih Joko Kendil. Si bungsu menangis di kamar dan melempar sebuah guci ke lantai. Terkejutlah Ketika tiba-tiba datang pemuda tampan yang pintar memanah. Ia menjelaskan, dirinya adalah Joko Kendil. Karena guci sudah pecah, Joko Kendil tak dapat berubah lagi dari bentuk penyamarannya. Si bungsu pun kaget bukan main sekaligus bahagia dan segera menceritakan pada ayahnya.

Singkat cerita, Joko Kendil hidup Bahagia dengan sang putri di Istana. Tapi, ia tak pernah melupakan temannya, Si Gundul. Ia mengajak Si Gundul untuk tinggal di istana raja. Si Gundul pun diangkat menjadi pelatih memanah di kerajaan.


Pesan Moral Kisah Persahabatan Joko Kendil & Si Gundul

Dari cerita rakyat asal Yogyakarta ini, kitab isa mendapatkan pesan moral penting bahwa hinaan & cacian tak akan berarti jika dibadapi dengan kebesaran hati. Cerita ini juga mengajarkan kita bahwa persahabatan tidak mengenal derajat hidup.


Baca Juga
> Kumpulan website penyedia jasa UNLOCK iCLOUD secara online
> Jual aksesoris iPhone termurah di toko kami di Tokopedia